| Mungkinkah Banten Akan Terbuat dari Plastik? |
|
|
|
| Written by Putu Wira |
| Saturday, 14 March 2009 01:57 |
|
Tidak dapat lagi dipungkiri, banten yang merupakan sarana upacara umat hIndu di Bali telah menyebar ke umat Hindu lainnya di daerah-daerah luar Bali di Indonesia. Sebagai salah satu sarana persembahyangan, banten dibuat dengan menggunakan bahan-bahan yang sebagian besar adalah berasal dari alam. Dalam Bhagawad Gita, IX-26, dituliskan: Siapapun yang dengan sujud bhakti kepada-Ku mempersembahkan sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan, seteguk air, Aku terima sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci.
Dalam bentuk banten dan segala isinya, terlihat bahwa makna sloka itu telah direalisasikan oleh masyarakat di nusantara dengan penuh nilai seni dan filosofis. Oleh karena itu, banten menjadi sarana yang penuh makna guna pengungkap perasaan orang yang mempersembahkannya. Seiring perkembangan zaman, terasa ada hal-hal yang terjadi di masyarakat saat ini membawa pengaruh terhadap pembuatan banten. Hal yang menjadi latar belakang masalah adalah bahan pembentuk dan waktu pembuatan.Dari segi bahan pembentuknya, sebagian besar banten dibuat dengan menggunakan janur (daun kelapa muda). Seiring berkembangan zaman, bahan –bahan tersebut tidak lagi bias didapatkan dengan mudah. Lahan tanam untuk bahan pembuatan banten semakin sempit seiring meluasnya lahan pemukiman. Bali sebagai konsumen utama terhadap bahan baku ini pun harus mendatangkannya dari luar Bali seperti Jawa.Dari waktu pembuatan, banten bukanlah benda yang dapat dibuat instan jika mengikuti adat istiadat dari Bali. Banyak Bahan yang perlu disiapkan untuk membuat satu Banten saja. Contohnya canang sari memerlukan porosan yang dibuat dengan kapur, sirih, pinang (benda-benda ini dibungkus dengan potongan janur), daun pandan, beras, bunga, bungaan, dll. Oleh karena itu, bagi mereka yang memiliki waktu sebagian untuk karirnya, hal-hal semacam itu akan sangat menyita waktu. Jika kita mengkaitkan kecenderungan manusia untuk terus mencari hal-hal yang praktis dan pembuatan banten akan ada suatu masalah menarik untuk kita bahas. Munculnya produk-produk sarana upacara yang dibuat dari kain atau bahan baku buatan lainya telah menggantikan fungsi daun atau bahan alam. Contohnya produk itu seperti lamak,tempat daksina, dan tempat-tempat banten lainya.Banten sendiri akan segera ’dibuang’ setelah digunakan dalam upacara. Di Bali ataupun di tempat lain, akan dijumpai tumpukan besar banten-banten yang telah digunakan dalam upacara besar. Seandainya banten-banten tadi masih dalam bentuk hidupnya, tentu akan lebih bisa dimanfaatkan terutama dalam mengatasi isu pemanasan global saat ini (perlu banyak tanaman hijau untuk menyerap CO2). Dari latar belakang itu muncul masalah sebagai berikut, sesungguhnya apa esensi pembuatan banten, apakah system upacara menggunakan banten cocok digunakan umat Hindu di Indonesia? Seandainya mengacu kepada sloka yang disebutkan sebelumnya, mengapa kita tidak menggunakan dominan bahan-bahan yang bias dipakai lebih dari sekali dalam pembuatan banten ,(misalnya dibuat dari plastik, logam, atau bahan buatan lainnya) dan hanya sedikit menggunakan daun dan bunga? Sebelum membahas hal itu, terlebih dahulu perlu kita tahu asal mula sistem pembuatan banten ini, sementara saudara kita umat Hindu di India tidak menggunakan bentuk-bentuk semcam ini. Menurut sejarah, agama Hindu dibawa ke bali oleh rsi-rsi dari Jawa. Di Bali mereka mengembangkan sistem-sistem upacara termasuk Banten. Mengapa sistem ini tidak dikembangkan di Jawa? Mengapa di mulai dari Bali? Terlepas dari asumsi bahwa Balilah daerah yang paling cocok untuk digunakan sebagai tempat mengembangkan sistem ini, kita sadar bahwa sistem yang berlaku di suatu daerah belum tentu akan cocok ketika diterapkan di daerah lain.Maksudnya sistem banten yang diterima di Bali, belum tentu mampu diterapkan di daerah di luar bali, meskipun kondisi-kondisi nya masih bias dipenuhi (masih tersedianya bahan). Sering kita dengar kata-kata, lakukan sesuatu menurut desa, kala, patra (daerah, waktu, dan kondisi). Mungkin dengan kondisi masyarakat Bali hingga saat ini banten masih bisa tetap bertahan sebagai warisan leluhur yang hendaknya kita lestarikan. Apakah didaerah lain perlu mengemban tanggung jawab ini, semuanya kembali kepada umatnya masing-masing. Secara kasat mata, banten itu membuang-buang bahan-bahan alam. Apabila ditelusuri lebih dalam lagi, pembuatan banten sesungguhnya adalah sistem check list (pendataan) terhadap bahan-bahan alam. Kita dituntut untuk tetap melestarikan keanekaragaman tanaman, Contohnya dalam pembuatan daksina, kita menggunakan berbagai macam rempah-rempahan. Kajian lebih mendalam tentang hal ini dapat dikaitkan juga dengan jenis-jenis caru, yang memiliki jangka waktu yang berbeda-beda, dari satu tahun hingga 100 tahun, dimana pelaksanaannya juga menggunakan hasil alam termasuk binatang (caru eka dasa ludra yang diadakan 100 tahun sekali menggunakan hewan-hewan yang mulai sulit didapat saat ini) Akan sangat sulit untuk membendung arus perubahan saat ini. Dalam kaitannya dengan bahan banten, selagi tidak menimbulkan gangguan terhadap norma-norma sosial dan keyakinan kita dalam mewujudkan yadnya dengan banten yang dianggap suci, pergantian bahan-bahan tidaklah merupakan suatu masalah. Namun demikian kita perlu selalu ingat pesan apa yang disampaikan dari banten, jagalah kelestarian itu. Tanpa adanya suatu tuntutan, sungguh sangat sulit bagi manusia untuk tetap mengemban tanggung jawab, lebih-lebih jika ditujukan demi kelestarian alam. Untuk itulah sistem banten dibuat. Putu Wira Angriyasa (FMIPA/07) |
| Last Updated on Wednesday, 09 September 2009 11:26 |


